Definisi Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal.

manfaat investasi:

1.untuk ‘menghasilkan uang’. Jika anda mengeluarkan modal Rp100 juta saat ini, maka tentu saja anda berharap akan memperoleh kembali modal anda plus sekian rupiah keuntungan yang bisa bervariasi pada berbagai jenis investasi. Semakin berani anda menanggung risiko, semakin besar pula ekspektasi anda untuk memperoleh return.

2.untuk melindungi kekayaan anda dari dampak negatif inflasi. Jika terjadi inflasi yang tinggi,maka kecenderungan harga-harga barang dan jasa akan meningkat, dan selanjutnya bisa menurunkan daya beli (purchasing power) uang  yang anda miliki. Untuk melindungi kekayaan anda dari dampak negatif inflasi, maka anda perlu melakukan investasi. Jika misalkan investasi tahun ini sebesar 12%, maka jika misalkan investasi anda menghaslkan tingkat return sebesar 20%, maka kekayaan anda tidak akan menyusut, tetapi justru berkembang sebesar 8%.

3.untuk memperbesar kemampuan konsumsi anda. Seperti penjelasan diatas, pendapatan anda bisa dialokasikan untuk konsumsi, ditabung, ataupun diinvestasikan. Dengan berinvestasi saat ini, anda bisa berharap memperoleh return positif. Hasil investasi tersebut tentu bisa menambah kekayaan anda, dan berarti kemampuan anda untuk konsumsi di masa depan juga semakin besar.

4.untuk mempersiapkan masa pensiun anda. Ketika seseorang memasuki masa pensiun, umumnya produktivitas akan mengalami penurunan. Pada kondisi ekonomi seperti sekarang ini, jika hanya mengandalkan gaji pensiun saja seringkali tidak bisa mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan hidup.

sisi gelap investai:

1.jebakan imbal hasil besar.Ada seribu satu pilihan investasi, baik di pasar keuangan maupun sektor riel. Dari yang masuk akal hingga yang tidak waras. Tetapi, bagi sebagian kalangan, yang dijadikan indikator adalah imbal hasil yang besar. Artinya, kalau investasi tersebut menjanjikan keuntungan yang menggiurkan, banyak pihak yang akan tertarik. Padahal, imbal hasil besar pasti dibarengi dengan risiko yang juga besar.

2.keserakahan investasi.Anda tentu pernah mendengar seseorang yang tiba-tiba menjadi kaya raya melalui investasi saham, tetapi kemudian tiba-tiba pula menjadi miskin kembali. Kenapa? Hanya satu jawaban, yakni serakah. Ketika seseorang berinvestasi saham dan saham yang dipilihnya sudah menuai capital gain, berkemungkinan untuk mulai tertarik pada saham-saham lain, yang belum tentu memiliki kinerja fundamental bagus. Saham-saham lain itu bergerak harganya karena dipicu oleh sentimen pasar atau di panas-panasi oleh bandar saham.Nah, jika Anda ikut-ikutan dalam permainan saham seperti itu dan berharap memperoleh keuntungan, yang kerap terjadi adalah buntung. Sebab, ketika saham Anda beli, harganya sudah di atas. Selanjutnya, para bandar meninggalkan Anda tanpa bisa keluar dari saham tersebut hingga suatu ketika nasib baik menghampiri Anda jika harga saham tersebut kembali meningkat.

3.ketidaksabaran berinvestasi.Anda tentu pernah mendengar istilah timing dalam investasi. Artinya, kapan Anda mulai berinvestasi dan kapan keluar. Istilah ini kerap dilekatkan dalam transaksi saham di pasar modal. Sebagian besar investor sangat paham bahwa kalau membeli saham, beli di saat harga rendah dan jual di harga atas. Masalahnya, kapan satu saham dianggap harganya murah dan kapan saat menjualnya? Berapa persen kenaikan dari satu saham sehingga layak disebut sudah tinggi? Jawabannya sangat relatif. Namun, yang sering terjadi adalah seorang investor telanjur menjual sahamnya pada saat harga baru saja mulai meningkat. Investor semacam ini tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk menunggu capital gain yang lebih besar sehingga keuntungan investasinya menjadi sangat terbatas.

4.investasi berdasarkan gosip.Masih ingat kisah Qisar ataupun arisan berantai yang memakan banyak korban? Peristiwa semacam ini bisa terjadi sebenarnya bukan saja karena sang korban memang memiliki perilaku serakah, ingin mendapatkan imbal hasil besar, tanpa memahami risikonya, melainkan karena tawaran investasi itu sendiri datang dari mulut ke mulut. Banyak kalangan ikut- ikutan karena tetangga dan ataupun saudaranya ikut serta lebih dahulu. Jadi, mereka terjebak ramai-ramai dan akhirnya menyesal ramai-ramai pula. Apa yang bisa dicermati dari fenomena tersebut? Jangan pernah berinvestasi karena tawaran ”mulut ke mulut”. Sebab, selain ”mulut” setiap orang berbeda, yang paling mendasar adalah investasi tidak pernah menawarkan diri. Investasi mesti dicari. Dan kebutuhan tiap orang dalam berinvestasi berbeda.

5.investasi berdasarkan utang.Benar, jika utang yang dilakukan diperuntukkan bagi kegiatan produktif yang terukur risikonya, maka utang untuk berinvestasi bukanlah hal haram. Yang menjadi masalah adalah seberapa besar utang itu dilakukan. Banyak kalangan terjebak pada utang karena ingin melakukan ekspansi secara terus-menerus sehingga beban bunga dan angsuran semakin besar, sementara hasil investasi tidak memadai untuk membayar kembali utang tersebut. Akibatnya, untuk menutupi utang yang satu dilakukan utang baru alias gali lubang tutup lubang. Pola ini dalam jangka panjang bukan saja memberatkan, tetapi juga bisa menggerus harta yang telah dimiliki. Oleh karena itu, hindari utang yang berlebihan dalam membiayai investasi.

sumber:

a.http://putracenter.net/2010/10/24/definisi-investasi-dan-proses-investasi/

b.http://cwma.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=83&Itemid=66