Ketidakseimbangan global terjadi karena di satu pihak ada negara-negara yang mengalami surplus anggaran negara ataupun neraca pembayaran luar negeri, di lain pihak ada negara-negara seperti amerika dan inggris mengalami defisit pada keduanya.

Dalam sistem keuangan global yang berlaku dewasa ini, hanya negara-negara yang mengalami defisit yang wajib melakukan penyesuaian untuk meniadakan kedua defisit tersebut. Negara-negara yang mengalami surplus tak perlu berbuat apa-apa.

Karena itu, China tidak mau menguatkan nilai tukar mata uangnya (renmimbi) yang dianggap terlalu rendah, sekitar 25-30 persen. Nilai uang yang terlalu rendah bagaikan memberikan subsidi pada ekspor negara itu, sekaligus mengenakan tarif bea masuk pada impornya. Di lain pihak, untuk mendorong pertumbuhan ekonominya, AS menjalankan kebijakan moneter Quantitative Easing (QE) dengan mencetak uang baru untuk membeli obligasi jangka panjang negaranya.

sedangkan Indonesia dan negara ASEAN lain terkena dampak negatif mata uang renmimbi yang terlalu rendah. Pada 2005, ASEAN dan China menandatangani perjanjian perdagangan bebas (ACFTA). ACFTA kian menurunkan tarif bea masuk dan meniadakan hambatan perdagangan nontarif (NTB). Dengan adanya kebijakan yang melemahkan nilai tukar renmimbi, ternyata China telah menggantikan penurunan tarif bea masuk dan NTB dengan kebijakan mata uang yang terlalu rendah sebagai instrumen proteksi perdagangan.

 

sumber :

a.http://titikdidih.blogspot.com/2010/12/dampak-ketidakseimbangan-ekonomi-global.html